Di Akhir Masa SMA

Tahun ini menjadi tahun yang benar-benar berat buat saya, atau bahkan bagi semua kelas 12 dimanapun di Indonesia yang saya kenal, ga ada yang ngerasa taun ini ringan untuk dijalani. Bayangkan, ketika kelas 9 angkatan sayalah yang pertama melaksanakan UN dengan 4 mata pelajaran yang diujikan, kemudian taun ini system kelulusan benar-benar dirubah secara total. Ya, T O T A L. belum selesai shock yang dibuat oleh hal tersebut, seakan telinga saya tak boleh dimanjakan, telinga malang ini kembali diterpa badai bahwa ITB hanya menyeleksei calon mahasiswanya 100% lewat SNMPTN, dan pasti kalian sudah tahu bahwa adapula Jalur Undangan. Saya kira, Mohammad Nuh sang mentri pendidikan sedang bahagia atas gagasan cemerlangnya ini. Tak tau apakah karena saya yang masih muda atau karena Moh Nuh kekolotan, tak memikirkan bagaimana seluruh angkatan 2011 diperas, dan diporsir. Semuanya harus serba ekstra. Maaf, ini bukan bentuk keluhan. Bagaimanapun saya harus tetap menjalani itu, tetapi ini bentuk suara, bahwa saya rasa system tersebut merebut banyak hal dari beberapa hak asasi manusia yang harus kami miliki. Tak hentinya saya mengoceh tentang ini, dan semua kebijakan sang mentri pendidikan atau bahkan sang presiden. Karena jujur saja, sampai saat ini saya belum menemukan titik terang dimana sisi baik system ini. Ampuni saya. Tiap hari saya masih kurang bias focus terhadap pelajaran. Twitter, facebook, atau sejenisanya terkadang sangat lebih menarik dibandingan hukum tak logis dari Darwin, Lamarck, atau vector dan transformasi yang mengacak kesadaran saya. Belum lagi teori foton dan hidrokarbon yang sungguh sangat mengagumkan. Saya berpikir kenapa SKL (Standar Kompetisi Lulusan-red) untuk kelulusan saya, kenapa tidak didistribusi sejak kelas X? mungkin kami tak akan kalang kabut menerima system baru ini. Belum lagi, taun ini rencananya pemerintah akan mengeluarkan 5 paket UN!!!!! Berarti aka nada paket A, B, C, D, dan E !!! fantastis! Untuk belajar saya masih senang membuat catatan sendiri. Dikelas saya full mendengarkan, meskipun ga focus terhadap gerak-gerik sang guru. Malah saya langsung pening dan mengantuk ketika Baba(you know lah) masuk, dan menerangkan teori matematika baru. Saking keseleonya otak saya, saya sempat mikir gini : gimana entar lah UN gw berapa. Yang penting gw bias masuk PTN yang gw pingin !!! lagipula yang penting adalah jadi apa setelah kita lulus nanti. Gila juga sih, tapi apa mau dikata, saya ga bias mengoptimalkan kerja otak kanan dan kiri saya dengan cara yang mengerikan seperi itu : diporsir. Sebenarnya dihati kecil saya ketakutan, takut ga lulus SMA, tapi selalu ada pembenaran seperti ini : 1. Otak gw bukan mesin, ia akan accept dan deny yang dia pengen atau gapengen. Buktinya pelajaran yang memang system pemblajarannya menyenangkan otak gw welcome aja. My brain isn’t a machine man! 2. Gw yang paling tau kedaan gw sendiri, kapan mood bagus dan mood jelek menguasai diri. Integral gakan tau mumetnya otak gw 3. Tak ada sekolah yang akan membiarkan siswanya tak lulus . 4. Semoga jalan pikiran saya tak sesat, dan manusiawi. Karena, kalau gw belajar buat SNMPTN, automatis UN ditangan. 5. Ampuni saya. Kalau ada guru yang ga masuk, pas jam istirahat, (bahkan ada gurupun nekat) saya lebih suka ke perpus atau ke BK, bagi saya memikirkan karir dan masa depan itu menyenangkan, dan menantang . atau saya corat-coret, dan ngotak-ngatik. Bukannya saya jadi anti social, tapi saya mulai (atau untuk sementara) menghindari bisikan-bisikan sesat menakutkan😛 . hanya saja, saya tak mau apapun atau seorangun membunuh semangat saya. Rada lebay sih, tapi apa boleh buat. Ampuni saya. Mengetahui ketatnya persaingan SNMPTN, atau dunia perkuliahan selalu saja ada yang berbisik “ lu ga akan dapetin yang lu mau kalo lu kaya gini, PTN gabakal ada di tangan lu kalo lu males, saingan lu se Indonesia men! Lu dari 19, lu harus bias buktiin, lu bla bla bla..” beruntunglah si pembisik membuat gw (maaf) membuat saya merinding. Saya berusaha nabung, saya pulang jam 4 (hal yang sangat jarang saya lakukan), atau pulsa saya saya gunakan full buat cari info beasiswa, kesempatan, rumus, motivasi, tips, dll, meskipun selalu saja ada waktu curi-curi singgah di twitter. Saya jarang lagi pulang malam, saya repotkan diri saya dengan buku. Saya makan, diam, atau bahkan buang air saya usahakan untuk membaca. Saya kurang tidur, menurut saya, 24 jam saja kurang cukup untuk hidup saya dikelas 12. Saya tak mau berdiam diri. Ibu saya bilang, rezeki tak akan semudah itu datang. Ada harga, ada barang, ada usaha ada hasil, semua cita-cita pasti ada yang harus dikorbankan, saya terapkan prinsip bersakit dulu bersenang kemudian. No pain, no gain. Tak lupa saya berdoa, semoga Allah melihat usaha saya, meniupkan kehendaknya atas apa yang saya butuhkan untuk saat ini. Amin. Setipa keinginan membutuhkan perjuangan, setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. tak ada keringat yang tak dibayar. Meski ini tulisan, ini bentuk audio dari pikiran saya, saya masih muda, mungkin masih bisa berubah. Ampuni saya.

Posted On Feb 2nd 2011

http://zaemhakim.tumblr.com/post/3082546247/di-akhir-masa-sma

This entry was published on January 7, 2012 at 1:14 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “Di Akhir Masa SMA

  1. Pingback: Mahasiswi?? « Dua Kali Sewindu

Say Something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: