Mencari Pahlawan Indonesia

Hampir semua orang Indonesia tau hari apa itu 10 November. Kalo kita flashback ke jaman dulu, kita bakal merinding gimana suara gelegar Bung Tomo ngebakar semangat pemuda ketika itu, cuma buat mempertahankan Kemerdekaan negara ini. Pahlawan. Ya, Pahlawan. Kita pasti inget gimana mereka gugur demi orang banyak, mereka ga tau kalau berdekade-dekade setelah kemerdekaan, jerih payah mereka di sia-siain, mereka dikhianati oleh keturunan mereka sendiri. Pahlawan bagaikan sebuah dongeng sebelum tidur di jaman sekarang. Sulit buat kita nemu sosok itu, sosok yang rela berkorban, sosok yang meniupkan napas perjuangan bahwa kesejahteraan rakyat adalah Tuhan. Terlalu diplomatis memang, tapi itu kenyataan.

Kalo aja mereka masih hidup, saya yakin merekalah yang akan berbondong-bondong ngelakuin demonstrasi ngeliat negara mereka sekarang. Gimana tiap tetes darah mereka jadi ga berharga, gimana keadilan yang mereka perjuangin di injek-injek, bagaimana mereka kaget karena mereka ternyata harus merebut keadilan, dan kekuasaan, bukan dari orang asing, melainkan dari tumpah darah mereka sendiri, dari anak-cucu yang mereka lindungi dulunya.

Tidak ada alasan bagi saya sebenarnya mengapa menulis artikel ini, selain momentum yang emang pas, rasanya naluri mendorong saya untuk menekan setiap tuts huruf pada keyboard. Dan karena saya sadar, negeri kita sedang melintasi sebuah persimpangan sejarah yang rumit, sementara kita tau kalau wanita-wanita sedang tidak subur, mereka semakin pelit melahirkan Pahlawan.

Serisih-risihnya saya terhadap krisis yang ada, sebenarnya saya ga terlalu merisaukan setiap sesi hidup di negara kita, saya terlalu muda untuk memikirkan semua itu. Lagi pula, saya pikir krisis itu nasib setiap bangsa. Yang membuat saya terkadang miris dan hati saya bergetar adalah kenyataan bahwa ketika krisis besar itu terjadi, kita justru kehilangan Pahlawan. Mereka mati dimakan kekuasaan. Bayangkan, Amerika mengalami depresi ekonomi terbesar sekitar tahun 1929 sampai 1937, dan kemudian di tahun 1942 mereka memenangkan Perang Dunia ke 2. Padahal, mereka ketika itu dipimpin seorang Presiden lumpuh yang terpilih sebanyak 4 kali, FD. Rosevelt. Krisis itu telah membesarkan Amerika; malah ketika masa depresi mereka menemukan teori makroekonomi yang kita gunain hingga saat ini.

Itulah yang terjadi ketika krisis ditangani oleh tangan dingin Pahlawan. Mereka mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, kecemasan menjadi harapan, ketakutan menjadi keberanian, dan krisis menjadi berkah. Mereka bertahan ketika hanya ada harapan dalam dada mereka. Karena harapan-lah inti kehidupan ketika tak ada lagi kehidupan. Inilah benteng terakhir suatu bangsa, sebab ketika satu bangsa ditimpa krisis, kemudian tak adanya harapan, ini merupakan suatu isyarat kejatuhan bangsa itu.

Mungkin Pahlawan tidak memberikan janji pasti tentang jalan keluar yang instan dalam menyelesaikan masalah, tapi mereka membangunkan inti hidup dan kekuatan yang tertidur disana, diatas ketakutan dan ketidakberdayaan. Itulah yang dilakukan Rosevelt.

Sebuah kehidupan yang di idamkan, kemakmuran yang dimimpikan, dan keadilan yang dicitakan masih bisa dibangun di negara ini. Zamrud Khatulistiwa ini masih mungkin diuntai menjadi kalung sejarah yang indah. Gak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini, seberapa banyak kekuatan asing yang menginginkan kehancuran bangsa ini. Semuanya masih mungkin, dengan satu syarat: Pahlawan. Tapi jangan pernah nunggu datengnya Pahlawan, ato nyoba ngegoda supaya ada Pahlawan datang kesini, seperti orang lugu yang selalu menunggu Ratu Adil yang jelas ga akan pernah dateng. Meraka sudah ada disini kawan. Para Pahlawan negara ini. Hanya saja, mereka belum mau mulai, mereka cuma perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka. At least, kita ga perlu memanjat atap hanya untuk merobek bendera, atau sleepless karena harus memegang senjata, atau merasakan gimana rasanya peluru menembus dada. Ya kita ga perlu melakukan semua itu, kecuali kita menunggu masa itu berulang dan menimpa kita. Pahlawan ga cuman dateng pas liat tarian daerah kita di klaim negara lain, atau pas batas negara kita digeser. Hal baik apapun yang kita lakukan, demi kepentingan orang banyak itu juga sebuah kepahlawanan. Pahlawan adalah seseorang yang kamu liat di cermin ketika kamu bercermin. Pahlawan itu aku, kamu dan kita semua.

Posted On Nov 10th 2011

http://zaemhakim.tumblr.com/post/12597071635/mencari-pahlawan-indonesia

This entry was published on January 7, 2012 at 2:28 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Say Something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: