Beasiswa


Sebelum baca ini, baca dulu tulisan pertama ( Tentang Kuliah ) dan yang kedua ( Sekolah Kemana? )

Ngomong-ngomong tentang luar negri, banyak sekali orang yang bilang sekolah kesana mahal. Kata saya, iya juga kalu mau pake biaya sendiri yang bisa lebih 200 juta setahun. Hey, tapikan ada beasiswa!!! Awal mulanya, saya kerajingan nonton film luar, saya mau ngerasain gimana rasanya sekolah disana. Mulailah saya mencari beasiswa dari kelas 2 SMA (di beberapa negara luar, kelas 2 SMA bisa langsung kuliah). Saya bareng Olin (Carolin Memory-red) terus nyari info beasiswa, coba-coba daftar, ditolak dan terus seperti itu.

Have Less. Do More. Be More.

Kalo rasanya kita ga punya cukup uang buat sekolah keluar negri (have less), kita harus mau Do More. Saya inget beasiswa pertama yang saya daftar adalah beasiswa kuliah Foundation penuh dari Newcastle University United Kingdom. Beasiswa ini memfasilitasi penerimanya berkuliah di foundation year bisa langsung dari kelas 2 SMA, yang mana setara dengan tahun pertama universitas, jadi setelah lulus kita akan langsung masuk ke smester 3. Tapi pada akhirnya saya sama Olin ga ngirimin aplikasi tersebut karena mepet dan essaynya belum selesai. Hah? Essay? ya. Rata-rata Universitas dan beasiswa luar negri mengharuskan kita membuat beberapa essay. Tiap negara, tipa universitas, tiap program beasiswa bisa beda-beda, tapi rata-rata kita harus bikin essay (jumlah katanya di batasi, rata-rata 500-2000 kata) tenang kenapa kita pantas menerima beasiswa, apa kelebihan kita, kenapa milih jurusan yang kita pilih, latar belakngnya apa, keuntungan buat diri kita, buat pemberi beasiswa dan buat negara kita apa, sampai bikin cerita tentang hal tersulit dalam hisup dan gimana cara kita keluar dari siuasi tersebut.

Logikanya, pendonor beasiswa bener-bener pengen tau kenapa kita menjadi yang paling pantas buat beasiswa tersebut. Rata-rata mereka menuntut sikap kepemiminan, makanya beruntung saya ikut OSIS. Nilai akademik memang jadi pertimbangan, tapi ga selalu, ada beasiswa yang memberi toleransi, dan hanya melihat poin-poin yang berhubungan, misalnya kamu ga bisa ngambil beasiswa teknik fisika klau fisika kamu jelek. Mereka mempertimbangkan keaktifan kita di organisasi dalam dan luar sekolah, pengabdian kita terhadap masyarakat, dan sebagainya. Untuk bikin essay ini, saya bulak-balik ke Ibu Euis Nurlaela buat mengkoreksi bahasa inggrisnya.

Setelah kita kirim, dan ternyata kita lolos seleksi berkas, kiat akan dijadwalkan interview. Nah kalo udah interview, 75% beasiswa ditangan, 25% nya tergantung kita saat interview. Pertanyaan-pertanyaannya seputar formulir, dan essay yang kita kirim, berlangsung dalam bahasa Inggris. Saya ingat ang menginterview saya adalah dua orang asing (dari kedutaan dan universitas) sama orang Indonesia, cuman yang Indonesia lebih diem dan menilai, serta sedikit menjelaskan. Kalo kita lolos tahap nterview, akan ada jadwal pembuatan visa, pre-departure orientation, dan ketika kita bangun, ga sadar ternyata udah ada di negara orang, dan harus siap-siap berkuliah.

Itu gambaran singkat perjalanan beasiswa. Nah untuk beasiswa sendiri, ada 3 jenis:

1. Beasiwa Lembaga

Beasiswa ini berasal dari pemerintah, maupun perusahaan atau yayasan. Biasanya kalo beasiswa pemerintah mengcover semua biaya, yang kita perlu bawa cuman diri, dan sedikit keperluan.

2. Beasiswa Tempat Kerja

Kalo ini sih biasanya buat yang D3, ato S2 dan S3. Biasanya sang perusahaan menyekolahkan karyawannya demi kemajuan perusahaan tersebut, atau enga perusahaan punya kerjasama denan universitas luar negri.

3. Beasiswa Kampus

Beasiswa ini biasanya merit based (bukan maried) jadi tergantung sama prestasi si penerima, dan pemilihannya ketat banget. Nah rata-rata orang Indonesia nyari beasiswa jenis 1 sama 2.

 

Cara Cari Beasiswa
Dulu, ketika saya udah pegang passion saya, apa yang saya lakukan? Saya cari universitas terbaik yang punya jurusan yang saya mau, trus saya cari info tentang pendaftaran, dsb, dan alamat email sang dekan atau profesor. Selanjutnya, ya, saya email profesor tersebut, menjelaskan asalnya saya, saya tertarik di bidang apa, dan bilang kalo saya mau sekolah di sekolah beliau. Ada profesor galak yang bales dengan seadanya, ada profesor baik yang seneng sama kita, berusaha nyariin jalan buat kita ngebuka impian kita. Profesor tersebut neguhubungin link-linknya buat saya, sampai sampai saya udah tau bakal tinggal dimana, fasilitas kamar saya apa, dan bakal tinggal sama siapa. Profesor tersebut ngasih link tentang beasiswa, yang kemudian saya pelajari, dan mulailah saya nyari beasiswa sendiri. Selain dari situs universitasna langsung, google bisa sangat membantu. Cukup ketik “Undergraduate Scholarship 20…/20…” maka ribuan beasiswa bakal muncul. Tuga kita adalah, jangan lelah membaca syarat, menerjemahkan dan mempertimbangkan, banyak yang gugur duluan pada tahap ini karena males nyari dan baca. Biasanya di satu situs, menyediakan alternatif beasiswa ko, ga cuman satu doang.

Syarat

Beberapa beaiswa punya persyaratan nilai akademis dan TOEFL tertentu (siapin dari sekarang!!), tapi jangan minder duluan, masih ada banyak waktu kan/ itulah mengapa saya nyari dari kelas 2, karena seengganya kita udah punya gambaran tentangsyarat, dan sebagainya. Ayo dipersiapakan. Kalau misalnya ga sanggup TOEFL, ada beberapa negara non-english yang menawarkan beasiswa kaya jepang, jerman, dsb, biasanya balak dikursusin bahasa juga secara gratis!

Cari Info

Cari di goole, dari webite sekolah, website kedutaan, email profesor, boleh hubungun alumni. Jangan lupa kenalkan diri baik-baik, dan menjelaskan minat serta tujuan kamu.

Cek Kredibilitas

Ada beberapa penipuan juga loh, makanya hati-hati. Ada oknum nakal yang negjanjiin beasiswa tapi pada akhirnya kita ditelantarin, dan kasus seperti ini ga sedikit. Periksa reputasi sponsornya.

Tulis Essay

Essay itu media kamu ‘menjual’ diri kamu, jadi tulis semenarik mungkin, unik, dan beda, tonjolkan kelebihan kamu tanpa bermaksud sombong, dan satu lagi, pakai bahasa inggris yang baik dan benar.

Siapkan dokumen

Pastikan semua dokumen dan formulir terisi dan lengkap, karena kurang satu lembar aja bisa di eleminasi. Jangan menyertakan yang engga diminta.

Lagu D’Masiv

Makudnya? Ya ‘Jangan Menyerah’ . Ada banyak penerima yang gagal berkali-kali. Nah dari ditolak itu, kita bisa tau kurang kita dimana, dan terus memperbaiki diri, terus menerus sampai sang sponsor bilang “Ini kandidat yang cocok”

Alternatif

Setelah saya kenal banyak orang, ternyata ada beberapa alternatif loh selain beasiswa. Misalnay kebanyakan negara skandinavia (Swedia, Islandia, Norwegia) kuliahnya gratis bahkan untuk siswa internasional, asal kita bisa masuk, jadi deh kita kuliah disana, bahkan pemerntah Denmark menggaji mahasiswanya loh!!! Selain itu, ratarata Universitas kenamaan Amerika, menerapkan sistem “blind” maksudnya, keuangan ga jadi masalah buat kalian, kalo kalian berhasil masuk, universitas akan mengusahakan kalian buat pergi dari tanah air dan sekolah di universitas mereka secara gratis, bahkan dengan tiket pesawat dan tempat tinggalnya sekaligus.

Nah segitu dulu penjelasannya, kalo ada yang mau ditanya, demi Tuhan saya terbuka, malahan saya seneng. Hal yang palin penting, tolong infonya di sebarkan!

This entry was published on July 28, 2012 at 7:14 pm and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “Beasiswa

  1. Pingback: Mahasiswi?? « Dua Kali Sewindu

Say Something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: