Ke Tempat Jauh dan Sepi

Saya sebenernya mau nulis ini dari sejak lama, tapi tak kunjung terlaksana. Awalnya just wanna tell that bersepeda menjadi sedikit pelipur lara bagi saya akhir-akhir ini. Tapi hari ini saya menonton sebuah film yang nampaknya mengubah cara pandang saya tentang hidup. Begitu selesai menonton saya langsung melangkah keluar and ride my bicycle.

Berada jauh dari rumah, di negri yang asing terkadang menjadi impian setiap orang. Sampai-sampai kita jadi lupa dan ga berterimakasih sama yang kita punya. Maksudnya? Kalo mau bandingin, saya disini mengangkat kaki dari tanah kelahiran saya, meninggalkan keluarga dan teman-teman. Beruntung? Ya bisa dikatakan saya beruntung, tapi temen-temen disana juga beruntung karena punya segala apa yang saya tinggalkan. Ketika saya ada masalah, saya tak tau harus lari kemana, cerita sama siapa. Yang saya lakuin cuman mengendarai sepeda saya sejauh mungkin ga peduli pagi, siang ato malem, berusaha melupakan. Kadang saya kesel sama temen-temen yang mikir kerjaan saya disini cuma jalan-jalan, melupakan tujuan saya kesini sebenernya apa. Oleh-oleh menjadi hal yang lebih penting daripada keadaan dan perasaan saya.

Beberapa bulan terakhir ini saya sering banget berdo’a minta ini, minta itu. Sayangnya permintaan saya belum terlaksana. Saya sempat menyerah. Setelah saya nonton sebuah film berdurasi 2 jam lebih dikit lewat youtube di hape saya, saya sadar akan sesuatu. Segera saya keluar mengendarai sepeda saya dengan banyak sekali pertanyaan, teori, dan hujatan. Saya terlalu banyak meminta. Entah salah ato engga, tapi saya mulai menyadari kalo ini saatnya buat saya mengurangi permintaan, atau bahkan berhenti meminta. Kenapa ga bersyukur sih Ze? Saya masì bisa ngayuh, sementara yang lain harus terbaring, dengan napas yang dibantu lewat selang besar yang ditusukin sana sini. Saya mau sehat. Cukup.

Akhir-akhir ini saya sering mimpi kalo saya pulang. Jiwa saya berontak dari hal yang selama ini coba saya tutupi, jiwa saya menunjukkannya lewat mimpi-mimpi, kalau saya rindu…. Tapi mereka, keluarga saya, terus meniupkan semangat supaya saya tak berhenti. Mereka mengingatkan saya bahwa, harapan itu seperti halaman selanjutnya dari sebuah buku, bukankah itu yang membuatmu tetap membaca?

Maka ketika saya puya masalah, merasa sedih, saya tak tau harus pergi ke siapa. Cuma satu hal yang bisa saya lakukan: bersepeda ke tempat jauh dan sepi.

This entry was published on September 2, 2012 at 6:23 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “Ke Tempat Jauh dan Sepi

  1. misorayaa on said:

    masih sering home sick?

Say Something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: